YENNI, S.H | 0812 6195848 | Pengacara Batam

Pilih Bahasa

My name is Yenni Nurhayani, S.H, I'm a lawyer at Indonesia and live at Batam Island, I was graduated on 2000. I can andle many type of case like deforce, criminal case and many other case. Just call me at +628126195848 or to my email yenninurhayanish@gmail.com

Arsip

Alhamdulilah… Puasa Angka Perceraian di Batam Turun

Satu minggu pelaksanaan ibadah puasa ternyata membawa dampak yang positif terhadap penurunan kasus perceraian di Batam. Berdasarkan data yang didapatkan dari Pengadilan Agama Kelas IB Batam, dari tanggal 29-2 Juni lalu terdapat 21 kasus atau rata- rata satu hari empat pengajuan, jumlah ini jauh menurun jika dibandingkan dengan hari biasanya yakni mencapai 15- 20 berkas pengajuan.

Panitera Muda Hukum PA Kelas IB Batam, Badrianus mengatakan turunnya kasus perceraian di Batam memang sering terjadi setiap tahunnnya. Biasanya pasangan yang hendak bercerai memilih menunda pengajuan hingga pelaksaaan ibadah puasa dan lebaran usai.

“Setelah itu pengajuan akan membludak kembali,” kata Badrianus, Senin (5/6/2017).

Pria asal Sumatera Barat ini menjelaskan periode Januari hingga Mei tahun ini jumlah pengajuan perceraian mencapai seribu lebih pengajuan yang masuk. Jumlah ini tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.

Untuk penyebab perceraian, pria yang akrab disapa Badri ini mengatakan masih permasalahan ekonomi. Kondisi ini diperburuk dengan lesunya ekonomi saat ini, sehingga membuat banyak kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan.

“Ini mempengaruhi, dari sesi wawancara yang kami lakukan dengan penggugat jawabannya paling dominan adalah masalah ekonomi,” ujarnya.

Dari total pengajuan tersebut masih didominasi oleh pihak wanita yang mengajukan berkas perceraian. “60 banding 40 persen lah,” tutupnya.

Continue reading

Angka Pengajuan Cerai di Batam Turun Drastis

Angka pengajuan penceraian di Pengadilan Agama (PA) Sekupang menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Tercatat, pada bulan ini jumlah perkara permohonan penceraian sebanyak 163 berkas, turun jauh dibanding bulan Desember 2016 sebanyak 347 perkara.

“Mulai menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya,” ujar panitera muda hukum Pengadilan Agama, Badrianus Selasa (14/02/2017).

Badrianus menjelaskan permohonan cerai talak sebanyak 37 gugatan dan 34 diantaranya dikabulkan pengadilan. Sementara cerai gugat pada Januari yang dilayangkan sebanyak 107 gugatan dan hanya 73 gugatan yang dikabulkan.

“Masih istri yang mendominasi pengaduan penceraian di PA,” ujarnya.

Ia mengatakan, faktor media sosial (medsos) masih menjadi penyebab angka perceraian yang terjadi. Dari sisi akhlak juga sangat berefek karena sudah tak ada lagi budaya malu antara kedua belah pihak yang melayangkan perceraian.

“Medsos mempengaruhi angka perceraian. Dari beberapa persidangan terungkap status mesra di chating dan aktivitas dunia maya lain menjadi awal mula perselingkuhan,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, ada 15 penyebab terjadinya perceraian di kota Batam. Penyebab-penyebab itu sering mendominasi fakta-fakta di pengadilan.

“Seperti dihukum penjara, murtad maupun karena di poligami,” pungkasnya.

Editor: Yudha

 

sumber : batamtoday.com

Krisis Ekonomi di Batam Picu Perceraian

tugas

Baru dua minggu usai lebaran Idul Fitri 1438 Hijriah, Pengadilan Agama Kelas 1-B Batam kembali ramai didatangi pasangan yang hendak mengahiri biduk rumah tangga mereka.

Data terbaru dari kantor pengadilan setidak 90 kasus telah terdaftar selama Juli 2017 ini.

“Memasuki minggu kedua ini sudah banyak yang daftar untuk cerai,” kata Panitera Hukum Muda, Badrianus, Selasa (18/7).

Badrianus menjelaskan bila dibandingkan selama Juni lau, angka perceraian mengalami peningkatan dari 72 kasus 90 kasus padahal bulan Juli masih berada di minggu kedua.

Meningkatnya angka pengajuan cerai tidak terlepas dari berbagai permasalahan, saat ini permasalahan yang mendominasi adalah perekonomian.

Continue reading

Tahun 2016, Terjadi 1.450 Perceraian

Banyaknya Pasangan Suami Istri (Pasutri) yang lalai akan instruksi bimbingan pra nikah, dianggap menjadi salah satu penyumbang tingginya angka perceraian pasutri di Kepri. Tahun 2016 angka perceraian di Kepulauan Riau mencapai 1.450 pasang atau 10 persen dari angka pernikahan.

“Sebenarnya bimbingan pra nikah itu dijalankan pada masa tunggu selama 10 hari, terhitung sejak pasangan mendaftarkan diri untuk dapat dinikahkan,” tutur Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Kepri, Marwin Jamal, kemarin.

Namun pada kenyataannya, di Kepri ini kerap kali pasutri melewati tahapan tersebut. Sehingga bekal materi yang dapat diimplementasikan pada perjalanan setelah menikah ini, tak memenuhi 10 hari sebagaimana yang diinstruksikan tersebut.

Continue reading