YENNI, S.H | 0812 6195848 | Pengacara Batam
Pilih Bahasa
My name is Yenni Nurhayani, S.H, I'm a lawyer at Indonesia and live at Batam Island, I was graduated on 2000. I can andle many type of case like deforce, criminal case and many other case. Just call me at +628126195848 or to my email yenninurhayanish@gmail.com
Arsip

Faktor Ekonomi Membuat Perceraian Meningkat Di Batam

tugas

Perceraian pasangan suami istri ( pasutri ) begitu trend bak kalangan artis di ibu kota, begitu yang terjadi pada masyarakat kota Batam yang di sebabkan berbagai macam faktor. Begitu banyak yang antri di halaman Pengadilan Agama Batam, Sekupang pada hari Senin ( 29/2 ) ramai di padati oleh manusia, kelihatannya  perceraian banyak di ajukan oleh kalangan Istri di bandingkan Suami.

Salah seorang ibu rumah tangga yang tak mau disebut namanya di perkirakan berumur 40 tahunan ingin menggugat cerai dan mengaku telah punya anak satu orang, berasal dari Bengkong kartini menjelaskan  dengan singkat ”tidak ada kecocokan lagi, untuk apa di pertahankan”sahutnya sambil menggenggam berkas-berkas surat pengajuan cerainya. Dia tidak mau menjelaskan secara rinci penyebab perceraiannya dengan suaminya. Sedangkan Mirna (27) penggugat cerai berasal dari kec. Batu Aji yang mengaku sudah di tinggal suaminya selama satu tahun dan tidak mengetahui kabar suaminya. Humas Pengadilan Batam M.Arifin. SH saat di temui di ruang kerjanya menjelaskan “Upaya  untuk memperkecil perceraian ini, Pengadilan Agama selalu melalukan mediasi pada setip pasangan yang bercerai.  Mediasi di Pengadilan Agama adalah suatu  proses usaha perdamaian antara suami dan istri yang telah mengajukan gugatan cerai, dimana mediasi ini dijembatani oleh seorang Hakim yang ditunjuk di Pengadilan Agama”jelasnya. “Kalua perkawinan itu harus keduanya, kalau mau baik ya baik walaupun satu tidak baik itu tak bisa jalan untuk berumah tangga, kalau di paksakan bisa mendatangkan mudrotan”tegas Pak M. Arifin, SH. “Umumnya mediasi dilakukan maksimal 2 kali. Bila dalam mediasi tidak tercapai perdamaian/rujuk, maka barulah proses perkara perceraian dapat dilaksanakan”terangnya. “Pada tahun 2015 perkara perceraian berjumlah 1,881 perkara, di tambah 371 perkara di tahun 2014 yang belum terselesaikan, sehingga ada  2.252 perkara pada tahun 2015. Dan yang belum selesai pada tahun 2015 sebanyak 361 perkara lagi harus di selesaikan pada tahun 2016 ini. Sementara pada Pebruari tahun 2016 ini kurang lebih 350 perkara sudah ada, artinya angka perceraian itu meningkat. Untuk penyelesaian perkara setiap tahunnya yang bisa damai hanya 4% saja” jelas Mukti Ali, S.ag sebagai Panitera di Pengadilan Agama Batam saat di temui wartawan klik7tv.com di ruang kerjanya. “Data perceraian yang paling banyak adalah pada usia 25-35 tahun dan alasan mereka yang paling banyak adalah faktor Ekonomi kurang lebih mencapai 50%, selingkuh 15% sedangkan Kekerasan dalam rumah tangga dan lainnya adalah 35%” kata Mukti Ali, S.ag.(Kasmir Harahap) Sumber : klik7tv.com