YENNI, S.H | 0812 6195848 | Pengacara Batam
Pilih Bahasa
My name is Yenni Nurhayani, S.H, I'm a lawyer at Indonesia and live at Batam Island, I was graduated on 2000. I can andle many type of case like deforce, criminal case and many other case. Just call me at +628126195848 or to my email yenninurhayanish@gmail.com
Arsip

1.243 Istri di Batam Ajukan Gugat Cerai

tugasAngka perceraian pasangan suami-istri di Batam terbilang tinggi. Tiap tahun, rata-rata Kantor Pengadilan Agama Batam memutus cerai 1.700 pasangan. Sepanjang tahun 2014, dari 1.768 kasus yang ditangani Pengadilan Agama, sebanyak 1.243 di antaranya merupakan gugatan pihak istri.

Panitera Muda Pengadilan Agama Kota Batam, Badrianus, mengatakan, untuk wilayah seperti Batam yang dihuni 428.787 keluarga, angka perceraian ini terbilang tinggi. ”Jumlah seribu tujuh ratusan ini termasuk banyak untuk Batam,” terang dia.

Badrianus menceritakan, dari pengalamannya memimpin sidang, persoalan utama yang kerap memicu perceraian adalah masalah ekonomi dan perselingkuhan. ”Kedua masalah itu menyebabkan tanggung jawab kepada keluarga berkurang,” kata Badrianus.

Dari 1.768 pengajuan perceraian di tahun 2014, sebanyak 1.243 gugatan diajukan oleh perempuan. Hal yang sama juga terjadi pada perceraian non-muslim. Badrianus mengatakan, sidang perceraian mengungkapkan gugatan yang dilayangkan oleh para wanita banyak disebabkan oleh karena suami mereka tak lagi mampu menafkahi mereka. Ada juga yang mendapati suaminya selingkuh dengan perempuan lain. Meski begitu ada juga kasus dimana pengajuan perceraian didorong karena penghasilan istri lebih besar dari suami. Kondisi itu membuat istri merasa memiliki tanggung jawab dalam mengendalikan keuangan keluarga. Tidak terima dengan suami yang penghasilannya jauh lebih kecil atau bahkan tak berpenghasilan, maka sang istri mengajukan gugatan cerai.

”Bisa juga terjadi, perempuan yang selingkuh karena memiliki pergaulan yang lebih luas ketimbang suaminya,” ujar Badrianus.

Selain banyak diajukan oleh kaum perempuan, sebagian besar perceraian terjadi pada pasangan muda yang usia pernikahannya antara 0–5 tahun. ”Banyak pasangan muda yang berumur 20–30 tahun yang usia pernikahannya singkat disebabkan karena komunikasi mereka yang tidak lancar. Akibatnya rumah tangga mereka tidak harmonis,” ujar Badrianus.

Angka 1.768 kasus di tahun 2014 itu, naik dibanding tahun sebelumnya sebanyak 1.676 kasus.  Jika menilik angka perceraian dalam lima tahun terakhir kasus perceraian yang terjadi di Batam memang tak jauh dari angka tersebut. Di tahun 2012, kasus perceraian yang terdaftar sebanyak 1.737. Sedangkan pada 2011, jumlah kasus mencapai 1.739. Jumlah perceraian itu melonjak dari tahun 2010 sebanyak 1.486 gugatan.

Sementara itu, dari pengadilan negeri sepanjang 2014 tercatat sebanyak 110 pasangan non muslim yang bercerai.

Jika dibandingkan di kota-kota besar di provinsi yang berdekatan, angka perceraian di Kota Batam relatif tinggi. Di Kota Pekanbaru misalnya, pada 2013 tercatat ada 1.426 pengajuan ke Pengadilan Agama. Di Padang pada 2014 tercatat Pengadilan Agama menerima 1.450 gugatan. Sementara di Medan pada 2012, ada 1.315 pasangan yang harus mengikuti sidang perceraian.

Nikah Terpaksa

Tarmizi dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Batam Kota mengatakan, salah satu hal yang membuat pasangan muda mengajukan permuhonan cerai karena pernikahan yang terpaksa. ”Banyak yang hamil duluan sebelum menikah,” kata Tarmizi.

Dia mengungkapkan, sebenarnya setiap perselisihan rumah tangga tidak semuanya berakhir di Pengadilan Agama. ”Masih bisa diupayakan perdamaiannya di BP4,” kata Tarmizi.

BP4 merupakan singkatan dari Badan Penasehatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan. Lembaga ini bertujuan untuk membantu pasangan sebelum menikah dan jika terjadi perselisihan.

Hanya saja, menurut Tarmizi persiapan pernikahan yang terjadi di Batam, kurang maksimal. ”Umumnya sebelum menikah, mereka mendapat konseling dari BP4 10 hari sebelum ijab. Tapi di Batam hanya dua hari,” kata dia.

Masa sepuluh hari itu berguna agar pasangan bisa saling mengerti tugas masing-masing dalam rumah tangga. Namun di Batam, pasangan diberi kelonggaran untuk mendapatkan konseling dari BP4 pada dua hari sebelum pernikahan. Keputusan itu didorong karena banyak calon pengantin yang bekerja di perusahaan swasta.

“Mereka tidak bisa mengajukan cuti dalam waktu yang berdekatan. Untuk mengikuti pembinaan BP4 paling tidak mereka harus cuti sehari. Sementara untuk pernikahan mereka harus cuti lagi beberapa hari. Makanya sekalian untuk pembinaan BP4 kami beri kelonggaran dua hari,” terang Tarmizi.

Namun, Tarmizi mengaku belum mangkaji korelasi soal singkatnya masa bimbingan BP4 calon pengantin dengan banyaknya perceraian. Karena sepanjang tahun 2014 hingga Desember KUA Bata Kota menikahkan 2.234 pasangan, sementara hingga Agustus hanya ada 23 kasus perceraian yang dilaporkan dari kantor Pengadilan Agama.

“Namun memang perlu waktu yang cukup untuk mendalami apa yang disampaikan dalam BP4, karena meliputi perintah-perintah agama mengenai tanggungjawab suami dan istri,” ujar Tarmizi. (yermia riezky)

Sumber : Batam Pos